Sebelum tidur anakku yang baru masuk TK (Rara) ditanya doanya mau tidur apa, lalu dia mulai mengucapkannya, agak terbata-bata dan masih kurang lancar lalu berhasil dengan dibantu mamanya. Lalu gantian kakaknya (Naya) suruh mengulang, dia bisa, lalu disuruh melengkapi dengan artinya, dengan celetukan ngawur khas asal gen alpha sang kakak menjawab, “Ya Allah aku mau tidur…” kami berdua pun tertawa…
Namun jika dipikir-pikir celetukan sang kakak ada benarnya, karena sebenarnya esensi berdoa bukankah berkomunikasi dengan Tuhan? jadi kalau kita mau apa tinggal sebut saja kita mau apa lalu bilang ma Allah.
Saya mau ndalil sebentar… Haha
Dalam Al-Baqarah ayat 186, Allah menyebut diri-Nya dekat dan menjawab permohonan orang yang berdoa. Tidak ada keterangan bahwa permohonan harus diajukan dalam format baku, rangkap tiga, lengkap dengan materai. Intinya, doa bisa aja simpel, ga usah terlalu ribet.
Terlepas bahwa doa yang diajarkan Nabi Muhammad pasti punya lipatan logika spiritual tersendiri karena jika diterjemahkan doa tidur itu tampak tidak terlalu berhubungan langsung dengan aktivitas manusia menutup mata dan hilang kesadaran. Itu soal lain. Meski bisa saja dihubungkan bahwa tidur adalah maut kecil.
Yang menjadi persoalan adalah kadang seringkali kita berdoa hanya fokus pada hapalan teks arab dan terjemahannya tanpa pernah merasa benar-benar berkomunikasi dengan Tuhan.